Make your own free website on Tripod.com

:: home :: index ::

 

Minggu, 27/10/2002
Liputan Khusus Warta Bulanan

Mari Kita Berdoa

“Bagaimana engkau berdoa?” pertanyaan itu diajukan oleh Pastor Jose Calveras kepada Anthony de Mello yang masih muda. Pertanyaan itu mengejutkan, sebab sebelumnya tidak pernah ada yang menanyakan hal itu kepada de Mello.

LANTAS de Mello menjelaskan, bahwa ia mengambil beberapa butir gagasan yang akan dibawanya dalam doanya. Ia mengawali doanya dengan meditasi. Tapi setelah beberapa waktu, pikirannya mulai mengembara dan ia merasa terganggu. Ia berusaha kembali ke pokok doanya, tetapi tak lama kemudian ia kembali terganggu. Begitu terus, hingga — ketika dihitung — 90 persen dari seluruh waktu doanya adalah terganggu.

Kemudian Calveras berkata kepada de Mello, “Yang kaulakukan adalah berpikir. Engkau tidak berdoa.” Lantas yang dikatakan Calveras berikut ini sa-ngat menarik. Menurutnya, buah doa tidak diperoleh lewat berpikir — meditasi ataupun refleksi. Buah itu semata-mata adalah anugerah Allah. Meskipun refleksi dapat membantu, tapi anugerah itu hanya dapat kita peroleh dengan memohon, dengan meminta-minta. “Maka mohonlah anugerah itu dan Tuhan akan memberikannya kepadamu. Mohonlah rahmat doa. Mohonlah rahmat agar engkau dapat mengalami kasihNya,” ujar Calveras.

Menurut de Mello, itulah yang me-nyebabkan Calveras dapat menjadi “guru” doa. Ia sungguh percaya bahwa yang harus kita lakukan adalah memohon kepada Tuhan apa yang kita butuhkan dan Tuhan tidak akan mengecewakan kita. “Kunci doa adalah permohonan. Tangan yang terulur memohon akan memperoleh hal-hal yang tidak dapat diperoleh oleh tangan yang memegang kepala sementara orang berpikir,” ujar Calveras lagi.

Doa mohon rahmat Tuhan adalah doa yang sangat mudah. Kesulitannya justru doa itu rasanya terlalu mudah. Semua orang Kristen tentu tahu cara berdoa—dengan satu atau lain cara. Tapi yang kerap tidak dilakukan adalah kembali kepada doa yag sederhana, yang diucapkan dengan permohonan kepada Tuhan. “Seorang anak pun dapat melakukannya,” ujar de Mello, “Tapi inilah kesulitan bagi kebanyakan di antara kita: Kita tidak lagi anak, sehingga kita lupa cara berdoa.”

De Mello lantas mengisahkan bahwa ia bertemu dengan banyak imam, biarawan-biarawati, yang berdoa jauh lebih baik sebelum mereka masuk seminari daripada sesudahnya. (Mungkin begitu juga dengan pendeta-pendeta kita? Atau sebagian besar di antara kita setelah kita dewasa?) Dulu kita menghadap Allah dengan segala kebutuhan kita — mohon rahmat agar lulus ujian, untuk kesehatan, untuk keberhasilan usaha kita. Lalu kita maju dan mempelajari banyak gagasan unggul — yang mengatakan bahwa Allah membantu orang-orang yang menolong dirinya sendiri…, bahwa kita tidak dapat mengubah kehendak Allah..., dst. “Maka kita tidak lagi mengharapkan mujizat. Kita berhenti mohon mujizat, dan campur tangan Allah dalam hidup kita menjadi semakin sedikit,” ujar de Mello. Padahal yang sangat penting bagi kehidupan spiritual umat percaya adalah keteguhan, kekuatan rohani, keberanian dan ketekunan. Dan untuk itu kita harus mohon, mohon, dan mohon; berdoa, berdoa, dan berdoa. Karenanya bagi de Mello, dalam setiap doa, kita harus menjadi seorang anak yang datang kepada Bapanya.

Dalam salah satu tulisannya, Calveras menjelaskan bahwa doa bersuara yang sederhana dan doa seruan adalah jalan menuju pengalaman ilahi. Kita suka merasa bahwa doa seperti itu adalah doa bagi para pemula dan orang-orang yang tak terpelajar. Tapi bagi Calveras dan siapapun yang mempunyai pengalaman dalam doa, itu adalah doa bagi orang-orang dewasa. www


::
home :: index ::

 

: Kirim Berita Anda : Kontak Webservant :

Copyright ©1999-2002, Gereja Kristen Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
Address: Jl. Gading Indah III NF-1/20, Kelapa Gading Permai, Jakarta, Indonesia.
Phone: 62 21 4530971 : Fax: 62 21 4502814