Make your own free website on Tripod.com

:: home :: index ::

 

Minggu, 29/09/2002

Dari Divergensi Menuju Konvergensi

Peristiwa reformasi gereja ternyata membawa juga perpecahan dan “penjauhan” (divergensi) bentuk liturgi gereja. Liturgi gereja barat yang semula hanya satu (liturgi Roma), kemudian pecah menjadi berpuluh bentuk dengan variasi yang berbeda-beda , sesuai de-ngan corak kehidupan bergereja dan teologi yang dianut oleh masing-masing aliran yang ada.

Hal itu terutama terjadi di gereja-gereja Protestan yang terdiri dari banyak sekali aliran. Karena itu, Pdt. Rasid Rachman yang mendalami soal liturgi dalam studi Magister Theologiae-nya, mengingatkan bahwa tidak ada satu liturgi Protestan. “Liturgi Protestan harus dipahami sebagai liturgi gereja-gereja Protestan. Sebab tidak ada satu gereja Protestan,” terangnya. Sepanjang sejarah gereja, liturgi telah mengalami berbagai macam perubahan bentuk dan penyesuaian, sesuai dengan kebutuhan masing-masing aliran dan denominasi.

Padahal dua tokoh reformasi yang paling berpengaruh, Martin Luther (1483-1546) dan Johannes Calvin (1509-1564) pada awalnya bahkan tidak bermaksud menciptakan liturgi Protestan yang baru, yang terpisah sama sekali dari liturgi gereja Katholik Roma. Yang mereka lakukan adalah pembaruan di bidang teologi. Tentu saja dalam praktiknya, pembaruan teologi berdampak juga pada urusan liturgi. Namun urusan pembaruan liturgi itu bukan dalam arti membuat liturgi baru, melainkan lebih pada upaya mengembalikan kepada bentuknya yang semula.

Ada kesan kuat bahwa pembaruan yang dilakukan oleh para reformator itu adalah upaya mengembalikan praktik-praktik liturgis yang “kurang pas” dari gereja Katholik Roma pada waktu itu, kepada bentuk liturgi gereja abad pertengahan, yang dirasakan lebih dekat dengan bentuk asli ibadah zaman Alkitab.

Ambil contoh pembaruan yang dilakukan Calvin. Menurutnya, tidak menjadi soal apakah roti perjamuan diterima umat dengan tangan atau tidak; tidak jadi soal juga, apakah roti dibagikan melalui umat atau langsung dari imam; apakah rotinya dibuat dengan ragi atau tanpa ragi (hal ini pernah dipersoalkan antara gereja Katholik Roma dan gereja Orthodoks Timur); cawan anggur dikembalikan kepada diaken atau bisa langsung diserahkan kepada umat yang duduk di sebelahnya; apakah anggur yang dipakai dalam perjamuan itu merah atau putih. Bagi Calvin hal-hal yang tidak mendasar secara teologis itu tidak terlalu menjadi persoalan, dan tidak perlu diterapkan secara kaku di dalam ibadah, seperti yang diwajibkan pada masa itu.

Perubahan pada liturgi Protestan justru terjadi setelah wafatnya John Wesley (1791). Para pengikut Wesley di Inggris, mengadakan penyederhanaan besar-besaran terhadap liturgi gereja Anglikan. Rasid Rachman mengatakan bahwa tindakan itu adalah “pemiskinan dan perombakan” terhadap liturgi Wesley. “Unsur-unsur tradisional dihilangkan secara naif oleh beberapa pengikut yang hanya tertarik dengan gaya rohani Wesley, ketimbang teologinya dan kerinduannya untuk tetap di dalam jalur Anglikan,” ujar Rasid. Sejak saat itu warna devosional-personal sangat berpengaruh pada gereja-gereja Metodis. Kuatnya warna personal itu (dibandingkan dengan warna komunal) semakin mendapatkan bentuk seriring dengan munculnya liturgi injili yang melulu menekankan semangat go and preach, serta sangat mengutamakan kotbah, doa-doa bebas, serta nyanyian-nyanyian yang bersifat emosi pribadi. Akibatnya, liturgi saat itu menjadi sangat verbalistik.

Kondisi itu sejalan dengan apa yang terjadi di lingkungan gereja Calvinis Belanda, yang lebih mengikuti Zwingli dan Farel ketimbang Calvin sendiri. Gereja Belanda juga memberi penekanan yang lebih besar pada urusan kotbah (verbal) ketimbang sakramen. Padahal Calvin sangat menekankan penting-nya sakramen—yang baginya, harus dilakukan pada setiap ibadah, kotbah dan sakramen, Pelayanan Firman dan Pelayanan Meja, harus berjalan seiring.

Pada masa-masa sesudahnya berbagai macam pengaruh masuk dalam kehidupan gereja. Pdt. H.A. van Dop, dosen Liturgi dan Musik Gereja di STT Jakarta mencatat adanya pengaruh kuat dari rasionalisme, individualisme, dan pietisme dalam kehidupan gereja Belanda. Ditambah juga dengan liberalisme modern, fundamentalisme (yang merupakan reaksi atas liberalisme itu), serta maraknya evangelikalisme gaya Amerika, yang sangat kentara dalam lagu-lagu yang digunakan.

Semua itu menjadikan “liturgi gereja Protestan” semakin jauh dari akarnya. Lagipula, sifat devosional-personal yang kuat sejak abad ke-18 (hingga sekarang), membuat masing-masing denominasi dengan gampang menentukan sendiri liturgi yang mereka sukai—seringkali tanpa pemahaman yang cukup tentang teologi dan sejarah liturgi itu sendiri.

Namun demikian, van Dop dan Rasid melihat, banyak gereja sejak 50 tahun belakangan ini mulai tertarik pada urusan pembaruan liturgi. “Ini disebabkan oleh komunikasi oikumenis yang mewarnai sejarah gereja sepanjang abad yang lalu,” ujar van Dop. Maka, para tokoh-tokoh gereja yang berorientasi oikumenis, mencari jalan untuk bersama umat menghayati spiritualitas dan ibadah secara bersama-sama. Karena semangat itu jugalah, sejarah liturgi digali kembali guna mencari unsur-unsur liturgi yang lebih melibatkan peran umat. Selama ini diakui bahwa liturgi yang ada kelewat pendeta sentris. “Makanya ibadah jadi terasa kering,” ujar van Dop seraya memberikan contoh beberapa contoh seperti sirnanya ibadah harian, peran anak-anak dan orang lain dalam liturgi sudah semakin ditingalkan, sepinya ibadah perjamuan, serta kuatnya pengaruh sekularisasi dalam ibadah.

Pendek kata, di kalangan gereja-gereja oikumenis (dan juga di kalangan gereja Katholik), tengah terjadi upaya mendekatkan kembali (konvergensi)bentuk dan suasana ibadah yang ada. Mau kembali ke akar. Salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh Tim Liturgi GKI dengan konsep liturgi GKI yang (rencananya) akan diberlakukan di seluruh Sinode Wilayah.

(mhs)


::
home :: index ::

 

: Kirim Berita Anda : Kontak Webservant :

Copyright ©1999-2002, Gereja Kristen Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
Address: Jl. Gading Indah III NF-1/20, Kelapa Gading Permai, Jakarta, Indonesia.
Phone: 62 21 4530971 : Fax: 62 21 4502814