Make your own free website on Tripod.com

:: home :: index ::

 

Minggu, 28/07/2002
Oleh: Tim Warta

Pendangkalan Spiritualitas

Salah satu paradoks yang (mungkin) paling mengerikan dalam dunia keagamaan dewasa ini adalah pendangkalan spiritualitas, justru ketika kebangkitan agama terjadi di mana-mana. Agama boleh jadi bangkit dan semakin menggelora, tapi bagaimana dengan penghayatan iman anggota-anggotanya?

Keterasingan gereja dari kehidupan umat sehari-hari — yang menyebabkannya menjadi seperti “rumah hantu” — menimbulkan suatu pertanyaan besar: Apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi?

Beberapa dasawarsa yang lalu, banyak pemikir mengajukan teori atau ramalan bahwa agama akan punah dari muka bumi ini, karena manusia modern dianggap sudah tidak lagi membutuhkan agama. Segala sesuatunya telah dijawab dengan rasionalitas modernisme. Dr. Kautzar Azhari Noer, dosen pasca-sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, dalam salah satu tulisannya di Jurnal Penuntun terbitan BPMSW GKI SW Jabar, menyebutkan bahwa dengan berbagai alasan humanistik, politik, dan ilmiah, para pemikir sekuler ateis itu mengingkari adanya Tuhan. “Pengingkaran akan adanya Tuhan adalah pengingkaran akan agama (teistik),” ujarnya.

Namun pemikiran itu belakangan ini telah semakin ditinggalakan orang, khususnya dua dasawarsa menjelang akhir abad XX. Pada periode itu (di luar dugaan mereka) ternyata terjadi kebangkitan agama-agama hampir di seluruh belahan dunia. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi soko guru modernisasi, mulai dikritik dan dikecam karena gagal menjawab persoalan-persoalan yang ada, termasuk berbagai persoalan yang ditimbulkannya sendiri.

Lalu apakah dengan demikian agama bisa dikatakan “memenangkan” persaingannya dengan modernitas? Tunggu dulu! Ternyata persoalannya tidak sesederhana itu. Bahwa terjadi kebangkitan agama-agama itu betul—termasuk juga di Indonesia. Tapi apakah kebangkitan agama-agama memberi pengaruh langsung yang positif terhadap moralitas kehidupan para pengikutnya? Mesti-nya, memang begitu. Tapi pada kenyataan-nya, hal itu masih tanda tanya besar—atau secara lebih tegas, harus dijawab: Belum tentu!

Tanpa perlu berbicara dengan sangat tajam, kita bisa mempertanyakan: Berapa banyak orang Kristen yang walaupun rajin ke gereja setiap hari Minggu bersama keluarganya, ternyata gemar “jajan di luar rumah”? Atau, berapa banyak orang Kristen yang sangat aktif dalam pelayanan, namun melakukan praktek KKN? Bahkan juga sampai melakukan tindak kejahatan, mengkonsumsi atau mengedarkan narkoba. Jangan bicara yang terlalu “mengerikan” seperti itu. Yang sederhana, pernah sekali waktu hampir terjadi perkelahian di tempat parkir gedung gereja, hanya karena masalah parkir mobil. Ironisnya hal itu terjadi seusai kebaktian Minggu. Kalau bisa begitu, bagaimana pada hari-hari lain? Apakah tingkah-laku berlalu-lintasnya, tidak semakin parah?

Tentu saja hal seperti itu tidak terjadi pada semua orang beragama. Ada banyak orang yang hidupnya sangat diwarnai oleh spiritualitas yang dewasa. Tapi gejala-gejala yang tampak itu toh tidak bisa dianggap angin lalu. Sebaliknya, kita perlu waspada, jangan sampai lembaga-lembaga keagamaan, termasuk gereja, benar-benar sampai pada titik kelumpuhannya.

Sejauh ini jelas ada indikasi bahwa agama belum mampu berfungsi untuk memperbaiki keadaan masyarakat secara cukup signifikan. Kalau begitu, masalahnya adalah, seperti yang dikatakan oleh Abdurrahman Wahid, telah terjadi “pendangkalan agama”. Atau, meminjam istilah Pdt. Eka Darmaputra, “Agama sudah tidak lagi dihayati.” Terjadilah pendangkalan spiritualitas umat beragama.

Agama-agama memang sedang bangkit. Gereja-gereja memang tidak pernah sepi. Tapi—ini yang perlu diwaspadai—hal itu hanya sebatas urusan ritual formal. Hanya sekedar upacara dan liturgi, tanpa menyentuh aspek penghayatan yang lebih mendasar dan eksistensial.

Karena itu yang terutama dibutuhkan adalah pendalaman spiritual. Agama tidak akan ada gunanya tanpa spiritualitas yang kuat dari anggotanya. Celakanya, spiritualitas adalah hal yang hanya bisa disentuh apabila yang bersangkutan menginginkannya. Lembaga keagamaan (baca: gereja) hanya bisa membantu memfasilitasi proses tersebut. Tanpa bisa melangkahi wilayah pribadi (baca: iman dan spiritualitas) dari yang bersangkutan.

Jadi…? Kita semualah yang harus menjawab dan menyikapinya. www


::
home :: index ::

 

: Kirim Berita Anda : Kontak Webservant :

Copyright ©1999-2002, Gereja Kristen Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
Address: Jl. Gading Indah III NF-1/20, Kelapa Gading Permai, Jakarta, Indonesia.
Phone: 62 21 4530971 : Fax: 62 21 4502814