Make your own free website on Tripod.com

:: home :: index ::

 

Minggu, 30/06/2002

Problematika Keluarga Kristen

Problematika keluarga Kristen dewasa ini ternyata sangat rumit. Ada banyak faktor yang turut mengambil peran di dalamnya.

Di tengah dunia yang semakin global ini, persoalan yang dihadapi oleh manusia ternyata tidak hanya menyangkut urusan yang besar-besar saja. Globalisasi juga telah membawa persoalan bagi lembaga terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga. Dan kelihatannya, kondisi seperti itu justru malah menjadikan urusan keluarga ini semakin pelik: Persoalan besar dalam lingkup yang kecil!

Pdt. Em. Suatami Sutedja yang dihubungi Tim Warta secara sangat serius merujuk pada persoalan global sebagai masalah utama yang dihadapi oleh keluarga-keluarga masa kini. Ada tiga hal yang disebutkan olehnya: Materialisme, hedonisme, dan konsumerisme. Ketiganya adalah trend global yang bisa jadi sangat mengancam kehidupan keluarga.

Ia lantas memberikan contoh, betapa pada saat krisis ekonomi melanda negeri ini, banyak sekali keluarga-keluarga yang tidak siap menghadapinya. “Misalnya, ketika suami terkena PHK, atau usahanya mengalami penurunan, atau bahkan bangkrut, tidak sedikit pasangan suami-istri yang justru menjadi tegang,” ujar Pendeta yang menaruh perhatian besar pada urusan keluarga ini. Apa penyebabnya? Menurutnya, sangat mungkin hal itu disebabkan karena adanya persepsi tentang materi yang kurang pas dalam keluarga.

Pnt. Jan H. Atmadjaja yang dimintai pendapatnya secara terpisah, juga melihat globalisasi sebagai tantangan serius bagi keluarga. Menurutnya, globalisasi juga menghadirkan kepelbagaian yang bisa menjadi baik tapi sekaligus bisa menjadi buruk. Ia lantas memberi contoh, apabila dulu seorang ayah menjadi petani, maka istrinya juga ikut bertani. Anaknya juga ikut membantu. Ada kebersamaan yang erat di tengah keluarga. “Sekarang, ayahnya tukang cetak, ibunya tukang jahit, anaknya tidak ada yang mau,” katanya sambil tertawa. Tuntutan zaman seperti itu, dilihatnya memberikan ruang bagi perbedaan-perbedaan yang potensial saling menjauhkan anggota-anggota keluarga. Masing-masing anggota keluarga bisa jadi punya dunia masing-masing, dan saling teralienasi satu sama lain.

Agaknya tantangan — kalau belum mau disebut masalah — bagi keluarga-keluarga (Kristen) itu seringkali tidak disadari, karena tantangan itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari zaman ini. Kita yang hidup di dalamnya seringkali tidak menyadari hal itu. Karena itu masalahnya justru semakin sulit dihadapi.

Namun demikian, Pdt. Em. Suatami Sutedja masih tetap optimis bahwa kita tidak perlu hanyut dalam arus global tersebut. “Walaupun arusnya besar, tapi kita toh masih bisa berenang di dalamnya. Setidaknya kita tidak perlu hanyut begitu saja,” ujarnya. Karena itu, menurutnya, yang perlu mendapat perhatian bukan sekedar persoalannya sendiri, karena setiap keluarga pasti punya persoalan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana keluarga mampu menyikapi persoalan yang mereka hadapi secara tepat.

Karena itu, Pendeta yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Binawarga GKI SW Jabar itu sangat mengharapkan agar keluarga-keluarga Kristen bisa bersiap dan memperlengkapi diri semaksimal mungkin, untuk menghadapi masalah-masalah yang mungkin timbul. “Kesiapan itu tidak terjadi secara otomatis,” tandasnya. “Kesiapan itu harus diupayakan secara sengaja.”

(har)


::
home :: index ::

 

: Kirim Berita Anda : Kontak Webservant :

Copyright ©1999-2002, Gereja Kristen Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
Address: Jl. Gading Indah III NF-1/20, Kelapa Gading Permai, Jakarta, Indonesia.
Phone: 62 21 4530971 : Fax: 62 21 4502814