Make your own free website on Tripod.com

:: home :: index ::

 

Minggu, 09/12/2001
Oleh: PntK. Stephen Suleeman, MATh, ThM.

Pemikiran-Pemikiran Teologis (2)
Teologi Tahun Yobel 
Ross & Gloria Kinsler 

Ross dan Gloria Kinsler adalah suami-istri misionaris PC (USA) yang lama bertugas di Amerika Latin. Mula-mula mereka ditempatkan di Guatemala dan belakangan di Costa Rica. Sebelum ke Amerika Latin, Ross mengajar di San Francisco Theological Seminary, di kampusnya di California Selatan. Di Costa Rica ia banyak terlibat dalam Pendidikan Teologi Ekstensi yang mungkin dapat diterjemahkan sebagai pendidikan teologi di lapangan, di luar kampus seminari.

Pertanyaan yang mengusik Ross dan Gloria agaknya adalah, benarkah orang menjadi miskin karena mereka malas? Kalau demikian halnya, mengapa di San Francisco sendiri sejak tahun 2000 jumlah orang miskin bertambah sampai 50%? Apakah mereka memang malas? Akar masalahnya cukup rumit, dari soal kapitalisme, ideologi pasar terbuka yang jelas tidak terbuka untuk semua orang, perlombaan dalam menjual barang semurah-murahnya, yang digambarkan sebagai “race to the bottom” yang akan membawa semua ke dalam kehancuran, polarisasi antara orang kaya dan miskin yang semakin menajam sehingga 20% orang terkaya di dunia memperoleh 86% seluruh penghasilan di dunia, dst.

Kenyataan ini ditambah lagi dengan tingkat kematian yang sangat tinggi – setiap hari diduga 30.000 orang, terutama perempuan dan anak-anak mati karena kekerasan, kelaparan dan pelayanan kesehatan yang sangat buruk di berbagai bagian dunia. Jumlah ini jelas jauh lebih tinggi daripada jumlah orang yang mati karena serangan terhadap WTC dan Pentagon pada 11 September yang lalu. Dengan jumlah itu, berarti setiap bulan ada 900.000, dan setiap tahun 10 juta, orang yang mati. Pernahkah kita memikirkan itu semua? Apakah arti Injil Yesus Kristus yang mengajarkan kepada kita agar kita mengasihi Allah dan sesama kita?

Ross dan Gloria mencoba membaca kembali Alkitab di dalam konteks Amerika Latin dan mereka menemukan betapa tema Tahun Yobel ternyata sangat mencuat baik di Perjanjian Lama maupun di dalam karya Yesus yang dikisahkan di dalam Perjanjian Baru. Misalnya, apakah arti ucapan Yesus kepada iblis ketika Ia dicobai di padang gurun, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat. 4:4)? Ayat ini sering ditafsirkan secara rohani, bahwa manusia tidak hanya harus makan, tetapi juga harus mendengarkan firman Allah. Bukan hanya bekerja, tetapi juga ke gereja.

Tetapi benarkah demikian? Ross mengajak kita membuka acuan yang digunakan Yesus untuk ayat ini, yaitu Ulangan 8:1-3. Di situ kita menemukan ayat yang berbunyi: “Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.” (ay. 3) Jadi jelas di sini bahwa ayat yang dikutip Yesus dalam Matius 4:4 mengacu kepada peristiwa manna seperti yang dikisahkan dalam Keluaran 16.

Dalam kisah Keluaran digambarkan bahwa bangsa Israel menyesal karena mereka harus meninggalkan Mesir, di mana mereka setiap hari dapat menikmati “kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang” (ay. 3), meskipun itu berarti hidup di dalam perbudakan. Kepada mereka, Allah kemudian menjanjikan “hujan roti” yang dapat mereka kumpulkan setiap hari. Mereka dapat memungut manna tersebut “tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba apakah mereka hidup menurut hukum-Ku, atau tidak.” Itu berarti mereka diperintahkan untuk mengumpulkan sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan oleh seluruh anggota keluarga mereka. Allah menjanjikan kecukupan bagi mereka, dan mereka harus belajar percaya akan pemeliharaan Allah untuk hari itu. Apa yang terjadi apabila mereka tidak taat dan mencoba mengumpulkan lebih dari kebutuhan mereka? Manna tersebut akan menjadi busuk dan tidak dapat dimakan.

Pada hari yang keenam, demikian Allah berfirman, mereka dapat mengumpulkan dua kali lipat karena mereka dilarang bekerja pada hari Sabat. Dan ajaib! Manna yang dikumpulkan pada hari keenam itu tidak akan menjadi busuk. Demikianlah, Allah mencoba mengajar Israel untuk taat dan mendengarkan firman Allah serta menerapkannya di dalam hidup mereka dalam bentuk kehidupan yang adil bagi semua. Dalam keadaan seperti itu, “orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.” (Kel. 16:18) Ayat ini belakangan dikutip oleh Rasul Paulus ketika ia membuat imbauan kepada jemaat Korintus agar mereka mengumpulkan sumbangan untuk jemaat di Yerusalem (2 Kor. 8:15), sebuah ayat yang sering kita dengar dibacakan sebelum persembahan di gereja dikumpulkan. Namun, betapa sering kita lupa apa arti sesungguhnya dari ayat ini, dari mana asalnya, dan apa yang diacunya.

Jadi masalah terbesar dalam menghadapi kemiskinan dan kelaparan di dunia adalah masalah distribusi. Sebuah contoh yang diangkat oleh Ross dan Gloria adalah harga mellon di Amerika Serikat. Untuk setiap $1.00 yang dibayar untuk sebuah melon, petani di Guatemala yang menanam dan menumbuhkan melon itu hanya menerima 1 sen. Ke mana sisanya yang 99 sen itu? Uang itu diambil oleh tengkulak dan penyalur melon itu ke AS, yang notabene tidak perlu bekerja sekeras dan selama si petani Guatemala itu.

Itulah sebabnya, maka saat ini ada banyak gereja dan LSM yang terlibat di dalam gerakan Tahun Yobel di seluruh dunia. Ada beberapa pendekatan yang mereka lakukan, antara lain dengan cara menyerukan pembatalan utang negara-negara miskin yang utangnya ternyata sebagian besar dikorupsi oleh para pemimpinnya sendiri (ingat Suharto dan kini kasus Buloggate II?). Rupanya para peminjam uang itu harus diberikan pelajaran juga agar tidak sembarangan memberikan pinjaman. Mereka harus memastikan bahwa pinjaman yang mereka berikan itu akan sampai ke tangan pihak yang benar-benar membutuhkan dan penggunaan-nya pun diawasi dengan sangat ketat.

Cara lain adalah memperbaiki sistem distribusi yang ada di dunia dengan membeli langsung hasil produksi dari petani di negara-negara miskin.

Tapi, mengapa setelah hampir 2000 tahun Injil diberitakan kita tidak melihat banyak perubahan di dunia? Ross dan Gloria mengutip pernyataan Jon Sobrino, seorang teolog Spanyol yang bekerja di Costa Rica, yang mengatakan, “Masalahnya, kita tidak mau melakukan apa yang diperintahkan kepada kita.” Dengan kata lain, untuk menghasilkan perubahan nyata, mulailah dari diri kita sendiri! 


::
home :: index ::

 

: Kirim Berita Anda : Kontak Webservant :

Copyright ©1999-2002, Gereja Kristen Indonesia. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
Address: Jl. Gading Indah III NF-1/20, Kelapa Gading Permai, Jakarta, Indonesia.
Phone: 62 21 4530971 : Fax: 62 21 4502814